Kaohsiung memiliki populasi Muslim sekitar 4 hingga 5 ribu jiwa. Terutama berasal dari Indonesia, serta teman-teman dari Pakistan, India, Turki, dan Malaysia. Setiap Jumat siang, mereka berkumpul di Masjid Kaohsiung untuk melaksanakan sholat.
Masjid Kaohsiung adalah masjid kedua di Taiwan dan juga merupakan salah satu dari enam masjid utama di seluruh Taiwan. Selain sebagai pusat kepercayaan agama, gaya arsitektur Islam yang megah tak hanya menjadi sandaran spiritual bagi umat Muslim di Taiwan Selatan, namun juga merupakan sarana penting untuk mempromosikan budaya Islam.
Kaohsiung berkomitmen untuk membangun lingkungan wisata ramah Muslim. Menyediakan fasilitas ibadah di ruang publik besar, menandai arah kiblat ke Ka'bah di Mekah, mengembangkan akomodasi ramah Muslim, sertifikasi restoran halal, dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan wisatawan Muslim dalam hal makanan, kebersihan, privasi, doa, dan adat istiadat kegiatan, menciptakan lingkungan wisata yang membuat teman-teman Muslim merasa seperti di rumah sendiri.
Nama Islam berasal dari Al-Qur'an. Kata "Islam" berarti tunduk, patuh, tenang, dan damai. Islam adalah salah satu dari tiga agama terbesar di dunia, dan mereka yang menganut agama Islam disebut Muslim.
Populasi Muslim di dunia sekitar 1,7 miliar orang, mencakup 1/4 dari populasi dunia. Paling banyak tersebar di Asia, diikuti oleh Afrika, sementara Eropa dan Amerika terus mengalami pertumbuhan. Statistik resmi menunjukkan jumlah Muslim di seluruh Taiwan adalah sekitar 300.000 orang.
"Halal" berarti segala sesuatu yang sesuai dengan ketentuan hukum Islam. Makanan & minuman halal bertujuan untuk legalitas dan kelezatan. Legalitas adalah kriteria dasar, dan kelezatan adalah upaya berkelanjutan untuk menjaga kualitas. Standar kualitas "halal" untuk menjaga kesehatan fisik dan mental manusia berasal dari wahyu Allah, yaitu makanan yang "aman", "higienis", dan "sehat".
"Makanan Halal" tidak terpengaruh oleh krisis keamanan pangan karena pengendalian ketat terhadap bahan baku dan pemrosesan akhir; memiliki satu tingkat pemeriksaan keamanan tambahan daripada makanan umum, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir tentang kesehatan dan higienitas.
Kebutuhan utama wisatawan Muslim adalah tidak mengonsumsi daging babi dan minum alkohol, daging lainnya harus memenuhi standar halal terkait, serta harus menyediakan ruang untuk sholat.
Saat ini, mekanisme sertifikasi yang berbeda telah ditetapkan untuk restoran yang dioperasikan oleh pengusaha Muslim dan non-Muslim:
Kaohsiung secara aktif membangun lingkungan wisata yang beragam dan inklusif, saat ini sudah ada lebih dari 20 hotel yang mendapatkan sertifikasi "Akomodasi Ramah Muslim (MFT/MFA)". Hotel-hotel ini menyediakan petunjuk arah kiblat Mekah (Qibla), sajadah, dan fasilitas kebersihan (semprotan pembersih) di dalam kamar, serta menyediakan sarapan khas yang bersertifikat halal. Dari hotel internasional bintang lima hingga hotel desain kreatif budaya, semuanya berkomitmen untuk menyediakan layanan yang sesuai dengan hukum Islam, sehingga wisatawan Muslim dapat merasa aman dan terhormat seperti di rumah sendiri selama perjalanan di Kota Pelabuhan.
Kaohsiung memiliki pilihan makanan & minuman halal yang kaya dan beragam, mulai dari rasa otentik Indonesia, masakan Asia Selatan yang kaya rempah, hingga hidangan vegetarian asing. Restoran-restoran ini telah melalui "Sertifikasi Makanan & Minuman Halal (MR/MFR)" yang ketat demi memastikan bahan makanan tidak mengandung babi dan alkohol, serta menggunakan peralatan makan dan memasak yang terpisah. Baik itu mencari cita rasa kampung halaman di sekitar masjid, atau pergi ke pusat perbelanjaan di pusat kota untuk menikmati masakan asing, teman-teman Muslim dapat dengan tenang mencicipi menu lintas batas di Kaohsiung dalam lingkungan makan yang menghormati keyakinan.